Di usia dua belas tahun, Raka terbiasa berpindah kontrakan dan menyimpan kenangan di saku jaketnya. Petunjuknya cuma kartu pos lusuh dan rekaman suara lama. Saat ibunya sakit dan memintanya mencari sang ayah, Raka menumpang bus antarkota, menyusuri terminal, pasar malam, hingga gang sempit yang samar-samar terasa familiar. Di tiap perhentian, ia bertemu orang-orang kecil dengan kebaikan yang tidak bising: sopir yang cerewet tapi perhatian, penjaga warnet yang peka, pemilik kios kaset yang hobi nawar. Badannya capek, hatinya juga, namun rasa ingin tahunya tetap menyala.
Jejak itu menggiringnya ke kota pelabuhan yang basah angin dan cerita basi yang belum selesai. Rumor tentang seorang lelaki yang selalu pergi sebelum fajar menuntun Raka ke pintu-pintu yang tidak selalu mau terbuka. Saat kenyataan tidak secantik harapan, ia harus memilih antara terus mengejar bayangan atau belajar memaafkan yang absen. Perjalanannya tidak menutup luka seketika, tetapi mengajarinya cara merawatnya. Pada akhirnya, Raka paham bahwa pulang bukan sekadar alamat, melainkan orang-orang yang menjaga langkahnya.
Di usia dua belas tahun, Raka terbiasa berpindah kontrakan dan menyimpan kenangan di saku jaketnya. Petunjuknya cuma kartu pos lusuh dan rekaman suara lama. Saat ibunya sakit dan memintanya mencari sang ayah, Raka menumpang bus antarkota, menyusuri terminal, pasar malam, hingga gang sempit yang samar-samar terasa familiar. Di tiap perhentian, ia bertemu orang-orang kecil dengan kebaikan yang tidak bising: sopir yang cerewet tapi perhatian, penjaga warnet yang peka, pemilik kios kaset yang hobi nawar. Badannya capek, hatinya juga, namun rasa ingin tahunya tetap menyala.
Jejak itu menggiringnya ke kota pelabuhan yang basah angin dan cerita basi yang belum selesai. Rumor tentang seorang lelaki yang selalu pergi sebelum fajar menuntun Raka ke pintu-pintu yang tidak selalu mau terbuka. Saat kenyataan tidak secantik harapan, ia harus memilih antara terus mengejar bayangan atau belajar memaafkan yang absen. Perjalanannya tidak menutup luka seketika, tetapi mengajarinya cara merawatnya. Pada akhirnya, Raka paham bahwa pulang bukan sekadar alamat, melainkan orang-orang yang menjaga langkahnya.
Di usia dua belas tahun, Raka terbiasa berpindah kontrakan dan menyimpan kenangan di saku jaketnya. Petunjuknya cuma kartu pos lusuh dan rekaman suara lama. Saat ibunya sakit dan memintanya mencari sang ayah, Raka menumpang bus antarkota, menyusuri terminal, pasar malam, hingga gang sempit yang samar-samar terasa familiar. Di tiap perhentian, ia bertemu orang-orang kecil dengan kebaikan yang tidak bising: sopir yang cerewet tapi perhatian, penjaga warnet yang peka, pemilik kios kaset yang hobi nawar. Badannya capek, hatinya juga, namun rasa ingin tahunya tetap menyala.
Jejak itu menggiringnya ke kota pelabuhan yang basah angin dan cerita basi yang belum selesai. Rumor tentang seorang lelaki yang selalu pergi sebelum fajar menuntun Raka ke pintu-pintu yang tidak selalu mau terbuka. Saat kenyataan tidak secantik harapan, ia harus memilih antara terus mengejar bayangan atau belajar memaafkan yang absen. Perjalanannya tidak menutup luka seketika, tetapi mengajarinya cara merawatnya. Pada akhirnya, Raka paham bahwa pulang bukan sekadar alamat, melainkan orang-orang yang menjaga langkahnya.