Nara, mahasiswi desain grafis yang lahir dengan empati fisik, bisa merasakan nyeri orang lain setiap kali bersentuhan. Untuk bertahan, ia menuangkan denyut itu menjadi mural bernuansa merah yang pelan-pelan viral. Pertemuannya dengan Raka, seorang barista yang menyimpan luka keluarga, membuka mata Nara pada pola sakit yang beredar di sudut-sudut kota dan mengubah muralnya menjadi ruang aman tempat orang menaruh kisah tanpa harus bicara panjang.
Ketika perhatian publik datang, sebuah startup kesehatan menawarkan proyek peta nyeri kota yang tampak mulia namun menyimpan agenda komersial. Rasa perih Nara makin menggerogoti, hubungannya dengan Raka renggang, dan komunitas mural diancam pembongkaran. Nara harus memilih antara menjual kisah-kisah yang ia jaga atau menolak eksploitasi dan membangun ritus kolektif untuk merawat diri, hingga akhirnya ia berdamai dengan rasa yang dulu menakutinya.
Nara, mahasiswi desain grafis yang lahir dengan empati fisik, bisa merasakan nyeri orang lain setiap kali bersentuhan. Untuk bertahan, ia menuangkan denyut itu menjadi mural bernuansa merah yang pelan-pelan viral. Pertemuannya dengan Raka, seorang barista yang menyimpan luka keluarga, membuka mata Nara pada pola sakit yang beredar di sudut-sudut kota dan mengubah muralnya menjadi ruang aman tempat orang menaruh kisah tanpa harus bicara panjang.
Ketika perhatian publik datang, sebuah startup kesehatan menawarkan proyek peta nyeri kota yang tampak mulia namun menyimpan agenda komersial. Rasa perih Nara makin menggerogoti, hubungannya dengan Raka renggang, dan komunitas mural diancam pembongkaran. Nara harus memilih antara menjual kisah-kisah yang ia jaga atau menolak eksploitasi dan membangun ritus kolektif untuk merawat diri, hingga akhirnya ia berdamai dengan rasa yang dulu menakutinya.
Nara, mahasiswi desain grafis yang lahir dengan empati fisik, bisa merasakan nyeri orang lain setiap kali bersentuhan. Untuk bertahan, ia menuangkan denyut itu menjadi mural bernuansa merah yang pelan-pelan viral. Pertemuannya dengan Raka, seorang barista yang menyimpan luka keluarga, membuka mata Nara pada pola sakit yang beredar di sudut-sudut kota dan mengubah muralnya menjadi ruang aman tempat orang menaruh kisah tanpa harus bicara panjang.
Ketika perhatian publik datang, sebuah startup kesehatan menawarkan proyek peta nyeri kota yang tampak mulia namun menyimpan agenda komersial. Rasa perih Nara makin menggerogoti, hubungannya dengan Raka renggang, dan komunitas mural diancam pembongkaran. Nara harus memilih antara menjual kisah-kisah yang ia jaga atau menolak eksploitasi dan membangun ritus kolektif untuk merawat diri, hingga akhirnya ia berdamai dengan rasa yang dulu menakutinya.