Di sebuah SMA yang reputasinya cukup bergengsi, Watanabe dikenal sebagai madonna sekolah yang anggun, pintar, dan selalu jadi pusat perhatian. Anehnya, setiap awal minggu ia rutin menghampiri seorang siswa biasa dan menanyakan jadwalnya dengan sangat detail. Awalnya, sang protagonis mengira ini hanya salah paham atau sekadar iseng. Namun pola itu berlanjut, jadi semacam ritual mingguan yang membuatnya kebingungan sekaligus penasaran dengan maksud Watanabe.
Seiring berjalannya waktu, berbagai momen kecil terbentuk dari obrolan soal jadwal: belajar bareng dadakan, titip roti kantin, hingga terlibat kepanitiaan acara. Jarak di antara keduanya perlahan menyempit lewat interaksi sederhana yang low-key wholesome. Di tengah rumor sekolah dan tekanan remaja, mereka belajar berkomunikasi dengan jujur, menyusun prioritas, dan menemukan alasan personal di balik pertanyaan yang terdengar sepele itu.
Di sebuah SMA yang reputasinya cukup bergengsi, Watanabe dikenal sebagai madonna sekolah yang anggun, pintar, dan selalu jadi pusat perhatian. Anehnya, setiap awal minggu ia rutin menghampiri seorang siswa biasa dan menanyakan jadwalnya dengan sangat detail. Awalnya, sang protagonis mengira ini hanya salah paham atau sekadar iseng. Namun pola itu berlanjut, jadi semacam ritual mingguan yang membuatnya kebingungan sekaligus penasaran dengan maksud Watanabe.
Seiring berjalannya waktu, berbagai momen kecil terbentuk dari obrolan soal jadwal: belajar bareng dadakan, titip roti kantin, hingga terlibat kepanitiaan acara. Jarak di antara keduanya perlahan menyempit lewat interaksi sederhana yang low-key wholesome. Di tengah rumor sekolah dan tekanan remaja, mereka belajar berkomunikasi dengan jujur, menyusun prioritas, dan menemukan alasan personal di balik pertanyaan yang terdengar sepele itu.
Di sebuah SMA yang reputasinya cukup bergengsi, Watanabe dikenal sebagai madonna sekolah yang anggun, pintar, dan selalu jadi pusat perhatian. Anehnya, setiap awal minggu ia rutin menghampiri seorang siswa biasa dan menanyakan jadwalnya dengan sangat detail. Awalnya, sang protagonis mengira ini hanya salah paham atau sekadar iseng. Namun pola itu berlanjut, jadi semacam ritual mingguan yang membuatnya kebingungan sekaligus penasaran dengan maksud Watanabe.
Seiring berjalannya waktu, berbagai momen kecil terbentuk dari obrolan soal jadwal: belajar bareng dadakan, titip roti kantin, hingga terlibat kepanitiaan acara. Jarak di antara keduanya perlahan menyempit lewat interaksi sederhana yang low-key wholesome. Di tengah rumor sekolah dan tekanan remaja, mereka belajar berkomunikasi dengan jujur, menyusun prioritas, dan menemukan alasan personal di balik pertanyaan yang terdengar sepele itu.