Sebagai putri keluarga terpandang yang terus didorong ikut omiai, sang tokoh utama menolak mentah-mentah. Ia lalu membuat daftar syarat yang sengaja dibuat tidak realistis seperti selalu peringkat teratas, atletis, pandai memasak, sayang hewan, pintar mengelola uang, sopan ke orang tua, dan mampu mengimbangi ritme hidupnya yang padat. Rencananya sederhana. Jika syaratnya mustahil, tidak akan ada pasangan yang cocok.
Yang tidak ia duga, seorang cowok yang cocok justru muncul dan ternyata teman sekelasnya sendiri. Demi menenangkan keluarga, keduanya menyetujui pertunangan percobaan. Dari kencan pura-pura, belajar bareng, sampai urusan domestik kecil, hubungan mereka perlahan terasa natural. Di sela humor, salah paham manis, dan momen hangat, mereka belajar berkomunikasi, mengatur ekspektasi, dan menemukan arti kemitraan yang setara.
Sebagai putri keluarga terpandang yang terus didorong ikut omiai, sang tokoh utama menolak mentah-mentah. Ia lalu membuat daftar syarat yang sengaja dibuat tidak realistis seperti selalu peringkat teratas, atletis, pandai memasak, sayang hewan, pintar mengelola uang, sopan ke orang tua, dan mampu mengimbangi ritme hidupnya yang padat. Rencananya sederhana. Jika syaratnya mustahil, tidak akan ada pasangan yang cocok.
Yang tidak ia duga, seorang cowok yang cocok justru muncul dan ternyata teman sekelasnya sendiri. Demi menenangkan keluarga, keduanya menyetujui pertunangan percobaan. Dari kencan pura-pura, belajar bareng, sampai urusan domestik kecil, hubungan mereka perlahan terasa natural. Di sela humor, salah paham manis, dan momen hangat, mereka belajar berkomunikasi, mengatur ekspektasi, dan menemukan arti kemitraan yang setara.
Sebagai putri keluarga terpandang yang terus didorong ikut omiai, sang tokoh utama menolak mentah-mentah. Ia lalu membuat daftar syarat yang sengaja dibuat tidak realistis seperti selalu peringkat teratas, atletis, pandai memasak, sayang hewan, pintar mengelola uang, sopan ke orang tua, dan mampu mengimbangi ritme hidupnya yang padat. Rencananya sederhana. Jika syaratnya mustahil, tidak akan ada pasangan yang cocok.
Yang tidak ia duga, seorang cowok yang cocok justru muncul dan ternyata teman sekelasnya sendiri. Demi menenangkan keluarga, keduanya menyetujui pertunangan percobaan. Dari kencan pura-pura, belajar bareng, sampai urusan domestik kecil, hubungan mereka perlahan terasa natural. Di sela humor, salah paham manis, dan momen hangat, mereka belajar berkomunikasi, mengatur ekspektasi, dan menemukan arti kemitraan yang setara.