Takashi akhirnya kembali dari medan perang yang keras dan asing, lalu mencoba mengatur ulang hidupnya sebagai siswa SMA biasa. Masalahnya, refleks tempur, insting waspada, dan kebiasaan taktisnya kebawa sampai ke kelas. Dari cara duduk yang selalu menghadap pintu sampai spontan membaca rute evakuasi saat upacara sekolah, semua bikin teman-temannya kaget dan salah paham. Rumor cepat menyebar, sementara Takashi cuma ingin nilai stabil, makan siang bareng teman, dan pulang tepat waktu.
Di tengah usahanya low profile, lingkar sosial Takashi malah makin ramai. Teman masa kecil yang peka perubahan, ketua kelas yang disiplin, dan murid pindahan yang terasa terlalu tahu menambah dinamika sehari-hari. Festival sekolah, latihan klub, hingga kerja kelompok berubah jadi misi ala operasi khusus yang berakhir kocak. Perlahan, Takashi belajar menaruh senjatanya secara simbolis, menjaga kedamaian kecil di sekolah tanpa harus menonjol, sambil menerima bahwa normal itu bukan berarti sendirian.
Takashi akhirnya kembali dari medan perang yang keras dan asing, lalu mencoba mengatur ulang hidupnya sebagai siswa SMA biasa. Masalahnya, refleks tempur, insting waspada, dan kebiasaan taktisnya kebawa sampai ke kelas. Dari cara duduk yang selalu menghadap pintu sampai spontan membaca rute evakuasi saat upacara sekolah, semua bikin teman-temannya kaget dan salah paham. Rumor cepat menyebar, sementara Takashi cuma ingin nilai stabil, makan siang bareng teman, dan pulang tepat waktu.
Di tengah usahanya low profile, lingkar sosial Takashi malah makin ramai. Teman masa kecil yang peka perubahan, ketua kelas yang disiplin, dan murid pindahan yang terasa terlalu tahu menambah dinamika sehari-hari. Festival sekolah, latihan klub, hingga kerja kelompok berubah jadi misi ala operasi khusus yang berakhir kocak. Perlahan, Takashi belajar menaruh senjatanya secara simbolis, menjaga kedamaian kecil di sekolah tanpa harus menonjol, sambil menerima bahwa normal itu bukan berarti sendirian.
Takashi akhirnya kembali dari medan perang yang keras dan asing, lalu mencoba mengatur ulang hidupnya sebagai siswa SMA biasa. Masalahnya, refleks tempur, insting waspada, dan kebiasaan taktisnya kebawa sampai ke kelas. Dari cara duduk yang selalu menghadap pintu sampai spontan membaca rute evakuasi saat upacara sekolah, semua bikin teman-temannya kaget dan salah paham. Rumor cepat menyebar, sementara Takashi cuma ingin nilai stabil, makan siang bareng teman, dan pulang tepat waktu.
Di tengah usahanya low profile, lingkar sosial Takashi malah makin ramai. Teman masa kecil yang peka perubahan, ketua kelas yang disiplin, dan murid pindahan yang terasa terlalu tahu menambah dinamika sehari-hari. Festival sekolah, latihan klub, hingga kerja kelompok berubah jadi misi ala operasi khusus yang berakhir kocak. Perlahan, Takashi belajar menaruh senjatanya secara simbolis, menjaga kedamaian kecil di sekolah tanpa harus menonjol, sambil menerima bahwa normal itu bukan berarti sendirian.