Seorang analis muda yang terbakar budaya lembur tiba-tiba terbangun di dunia korporat fantasi, tepat di posisi yang paling ia benci: penjahat resmi perusahaan. Alih-alih mengurus spreadsheet, kini ia mengelola pasukan, membaca kontrak sihir, dan menerima KPI paling absurd dalam sejarah kerja: menggulingkan bos tiran yang memonopoli semua bonus. Dengan otak strategis dan pengalaman audit, ia mulai membongkar budaya toxic, memanfaatkan celah aturan, dan mengubah rapat mingguan menjadi arena taktik.
Namun setiap langkahnya mengundang politik kantor tingkat tinggi. Rekan yang oportunis, divisi yang berseteru, hingga komite etika kerajaan menguji batas moralnya. Apakah menjadi penjahat berarti hancurkan semuanya, atau reformasi menyeluruh justru lebih efektif? Di tengah tenggat kuartal dan intrik yang kian naik level, ia harus memilih antara kemenangan instan atau perubahan yang berkelanjutan tanpa kehilangan dirinya sendiri.
Seorang analis muda yang terbakar budaya lembur tiba-tiba terbangun di dunia korporat fantasi, tepat di posisi yang paling ia benci: penjahat resmi perusahaan. Alih-alih mengurus spreadsheet, kini ia mengelola pasukan, membaca kontrak sihir, dan menerima KPI paling absurd dalam sejarah kerja: menggulingkan bos tiran yang memonopoli semua bonus. Dengan otak strategis dan pengalaman audit, ia mulai membongkar budaya toxic, memanfaatkan celah aturan, dan mengubah rapat mingguan menjadi arena taktik.
Namun setiap langkahnya mengundang politik kantor tingkat tinggi. Rekan yang oportunis, divisi yang berseteru, hingga komite etika kerajaan menguji batas moralnya. Apakah menjadi penjahat berarti hancurkan semuanya, atau reformasi menyeluruh justru lebih efektif? Di tengah tenggat kuartal dan intrik yang kian naik level, ia harus memilih antara kemenangan instan atau perubahan yang berkelanjutan tanpa kehilangan dirinya sendiri.
Seorang analis muda yang terbakar budaya lembur tiba-tiba terbangun di dunia korporat fantasi, tepat di posisi yang paling ia benci: penjahat resmi perusahaan. Alih-alih mengurus spreadsheet, kini ia mengelola pasukan, membaca kontrak sihir, dan menerima KPI paling absurd dalam sejarah kerja: menggulingkan bos tiran yang memonopoli semua bonus. Dengan otak strategis dan pengalaman audit, ia mulai membongkar budaya toxic, memanfaatkan celah aturan, dan mengubah rapat mingguan menjadi arena taktik.
Namun setiap langkahnya mengundang politik kantor tingkat tinggi. Rekan yang oportunis, divisi yang berseteru, hingga komite etika kerajaan menguji batas moralnya. Apakah menjadi penjahat berarti hancurkan semuanya, atau reformasi menyeluruh justru lebih efektif? Di tengah tenggat kuartal dan intrik yang kian naik level, ia harus memilih antara kemenangan instan atau perubahan yang berkelanjutan tanpa kehilangan dirinya sendiri.